Langsung ke konten utama

Postingan

Situs Balekambang di Gringsing Batang.

 Situs Balekambang yang menyegarkan ini terletak di dukuh Sidorejo, desa Krengseng, Gringsing, kab. Batang. dahulu disekitar situs terdapat arca Vasudara, arca Durga, 2 Jaladhwara, 3 makara yang kini tersimpan di Museum Ronggowarsito, Semarang. kini di lokasi hanya tersisa tumpukan bebatuan kuno, juga batu bereliefkan bunga teratai di bawah pohon. sebuah Prasasti yang dikenal sebagai Prasasti Bendosari/Balekambang juga menjadi saksi Balekambang di masa lampau. Prasasti dengan ciri fisik ti nggi 85 cm, lebar 44 dan tebal 34 cm ditulis menggunakan huruf Pallawa berbahasa Sansekerta diperkirakan berasal dari abad 7 - 9 masehi. Prasasti dengan kondisi aus, lagi patah menjadi dua bagian ini masih bisa terbaca dibeberapa baris dengan isi pujian terhadap mata air yang sama sucinya dengan sungai Yamuna.

situs Candi Gamelan di dukuh Bleber, desa Sastrodirjan, kec. Wonopringgo, Pekalongan.

 Terletak ditepian pematang sawah, situs yang masyarakat sekitar menyebutnya sbg "candi gamelan" ini terdapat beberapa batuan yang serupa bentuk gamelan, selain itu terdapat umpak, batu dakon dan menhir dengan ukuran kecil yang merupakan ciri budaya megalitik, hal ini nampak jelas dengan adanya batu yang digunakan berupa satu batu tunggal (monolit), dengan pola melingkar. nah pada zaman Megalitikum, para arkeolog sendiri menyebutkan bahwa situs semacam ini biasanya dipakai sebagai sarana pemujaan sebagai implementasi kepercayaan Animisme dan Dinamisme. jadi sebelum kedatangan agama agama yang ada sekarang, moyang kita sudah memiliki sistem pantheon-nya sendiri.  Di luar pembahasan i lmiah, masyarakat Sastrodirjan sendiri memiliki kisah kearifan lokal tentang situs ini juga menjadi asal usul nama desa Sastrodirjan dan nama Wonopringgo. mereka mempercayai bahwa situs ini peninggalan Sunan Kalijaga sebagai metode dakwah dalam menyebarkan agama Islam di desa tersebut, saat itu S...

Situs Linggo Yoni Sabdo Kirono di Karanganyar - Pekalongan

Tidak seperti namanya Linggo Yoni, situs ini sebenarnya lebih mirip kepada bentuk Lumpang / Cobek, selain itu terdapat artefak mirip kapak batu, alu batu, dan bola batu terbuat dari batu andesit yang nampak pembuatannya belum halus seperti situs Gedong di Petungkriyono. walaupun berbentuk Lumpang, makna penamaan Linggo Yoni dalam situs ini sendiri memiliki artian yang luas. bagi masyarakat Jawa memandang Linggo Yoni, selain menggambarkan aspek Purusa-Pradhana yang terpengaruh unsur Hindu, Linggo Yoni juga memiliki filosofi kerangka dasar dalam kehidupan manusia. terletak di antara sungai dan pemakaman umum, situs ini juga dikenal sebagai Watu Cowet yang memiliki arti Batu Cobek (Cowek), nama ini pula yang digunakan untuk menamakan dukuh Sicowet.  terletah di tengah perkebunan durian arah makam dukuh Sicowet, desa Pododadi, kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. situs ini nampaknya terpelihara dengan baik melihat bangunan yang menaungi situs ini. disitu juga terpasang papan y...

Situs Dharmasala di Dieng Banjarnegara

 Berada di barat kompleks Candi Arjuna, situs yang berupa pondasi bangunan lengkap dengan umpak-umpak yang berjajar rapi, hal ini membuktikan bahwa terdapat bangunan yang terbuat dari kayu pada masa lalu di sekitar Candi Dieng. para arkeolog sendiri menamakan situs ini dengan nama Dharmasala (IAST: Dharmaśālā), berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki makna tempat tinggal rohani. dengan konsep semacam shelter atau tempat istirahat untuk peziarah spiritual. mengacu pada kons ep Dharmasala di India sana, Dharmasala biasanya dibangun di dekat tempat-tempat ziarah suci. memberi peziarah tempat untuk tidur selepas dari perjalanannya yang jauh. selain itu Dharmasala juga digunakan sebagai aula pertemuan, tempat belajar mengajar juga sebagai tempat persiapan menjelang upacara agama. mungkin kalau di zaman sekarang ini, Dharmasala mirip dengan Bale Wantilan yang ada di Bali, yang biasanya terletak di Jaba Pura (bagian terluar dari tempat suci).   Nampak juga 2 sumur di sekitar sit...

Situs Baron Sekeber / Arca Dwarapala di Doro Pekalongan

                 Perjalanan kali ini saya memutuskan untuk mengunjungi situs Baron Sekeber di dukuh Kaum, desa Rogoselo, kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan. berbekal petunjuk dari warga setempat saya dan seorang teman memulai penelusuran situs ini. setelah kendaraan kami pakirkar di dekat warung di sekitar Bendungan Rogoselo kami mulai berjalan kaki menuju ujung lapangan setempat, setelah itu kami menyeberangi sungai dan menyusuri hutan karet PTPN IX, dan hal itu harus terulang tiga kali untuk mencapai situs tersebut. nyebrang sungai, nyusuri hutan, nyebrang sungai lagi, berjalan di hutan lagi, dan nyebrang sungai lagi. sebenarnya ada rute yang mudah namun jauh dari pemukiman warga, yaitu di salah satu persimpangan jalan yang menghubungkan desa Rogoselo dengan desa Pungangan, dari persimpangan itu kita cukup menuruni bukit lalu nyebrang sungai sekali dan langsung akan nampak pagar yang mengelilingi situs.  Setelah bergulat dengan air...

Gereja Katolik Santo Petrus

Sebelum tahun 1927, “Gereja Misi Kristus Raja di Purwokerto” termasuk Vikariat Apostolik Batavia ( Jakarta ) dan berada di bawah pelayanan Tarekat Yesuit. Pada tahun 1927 kawasan ini diserahkan oleh Tarekat Yesuit kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC). Dalam rangka serah terima penguasaan daerah karya misi dari Jesuit kepada MSC, Romo B Thien MSC, yang bersama dengan Romo BJJ Visser MSC dan Romo De Lange MSC, mendapat   tugas membuka paroki Tegal.   Dalam tugas penggembalaanya, Rm De Lange juga menjangkau seluruh daerah karisidenan Pekalongan, termasuk wilayah Pekalongan itu sendiri. Meskipun jumlah umat sedikit dan dirasa kurang menarik untuk pengembangan misi, ada satu keluarga katolik yang bernama P Fischer yang memegang kas umat/ stasi Pekalongan. Pada tanggal 18 April 1928 dikeluarkan  surat  keputusan dari Gubenur Jendral tentang ijin perjalanan dinas pastor paroki   setahun 12 kali dengan biaya ditanggung pemerintah.   Dalam tugasnya Romo...

Sekilas mengenai Kelurahan Sampangan Kota Pekalongan

Profil Pemukiman Pekalongan Baru Kelompok penduduk Cina yang disebut Ma Huan pada abad XIV ketika singgah di Pekalongan itu adalah kampung Sampangan. Letaknya di dekat muara sungai Kupang atau sungai Loji. Karena di situ tempat tambatan sampan-sampan yang mengangkut barang dagangan keluar masuk pelabuhan. Kampung Sampangan sekarang juga disebut kampung Pecinan, karena sejak awal terjadinya pemukiman telah dihuni oleh komunitas masyarakat Cina. Di samping hunian komunitas Cina terdapat hunian masyarakat pribumi, Arab dan Keling. Akan tetapi tidak ada keterangan di mana kira-kira kelompok masyarakat di luar masyarakat Cina bermukim. Karena pembangunan pemukiman kota pantai di Asia Tenggara pada umumnya ada di muara sungai. Akan tetapi sulit untuk diketahui pola tata ruangnya. Sebagai pemukiman niaga kelompok pemukiman pantai pada abad XIV selalu menyertakan keberadaan pasar sebagai pusat ekonomi. Model pemukiman niaga pantai jawa yang merupa...